Tirta Galeri
Aneka produk kerajinan dan souvenir yogyakarta

artikel-tirta-gallery-1
24 January 2013

Ya, semua sudah mengenalnya, pasar Beringharjo menjadi sebuah bagian dari salah satu kawasan Malioboro yang sayang untuk dilewatkan. Bagaimana tidak, keberadaan pasar ini telah menjadi pusat kegiatan ekonomi selama ratusan tahun dan keberadaannya mempunyai makna filosofis. Pasar yang telah berkali-kali dipugar ini melambangkan satu tahapan kehidupan manusia yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan ekonominya. Selain itu, Beringharjo juga merupakan salah satu pilar yang dikenal dengan Catur Tunggal (terdiri dari Kraton Kasultanan, Alun-Alun Utara Kraton, Istana Kraton, dan Pasar Beringharjo).

Menurut beberapa sumber, wilayah Pasar Beringharjo pada mulanya merupakan hutan yang ditumbuhi pohon beringin. Kemudian, tidak lama setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya tahun 1758, wilayah hutan beringin ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Ratusan tahun kemudian, barulah tempat transaksi ekonomi ini baru memiliki sebuah bangunan permanen. Nama ‘Beringharjo’ sendiri diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang artinya wilayah yang semula pohon beringin (bering) diharapkan dapat memberikan kesejahteraan/kemakmuran (harjo). Kini, para wisatawan memaknai pasar ini sebagai tempat belanja yang sangat lengkap dan menarik.

Pada bagian depan sepanjang trotoar dan pada bagian belakang bangunan pasar terutama sebelah barat merupakan tempat yang tepat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar tradisional. Pada lantai 1, 2 dan 3 dijual aneka produk kerajinan jogja, kebutuhan perlengkapan sehari-hari dan bermacam-macam souvenir pernikahan. Khusus untuk produk dari bambu, kayu, dan produk non logam, di lantai 3 terdapat kerajinan lampu hias dari bambu, batok kelapa, kayu dan sebagainya. Sementara bagian belakang umumnya menjual makanan yang tahan lama seperti ting-ting yang terbuat dari karamel yang dicampur kacang, kacang telor, bakpia, wajik, wingko, dan lain-lain.

Bagi wisatawan yang hendak membeli batik, Beringharjo adalah tempat terbaik karena koleksi batiknya sangat lengkap. Mulai batik yang masih berupa kain maupun sudah jadi pakaian, bahan katun hingga sutra, dan harga puluhan ribu sampai jutaan rupiah (batik tulis) juga tersedia di pasar ini. Koleksi batik kain dijumpai di kios pasar bagian barat sebelah utara. Sementara itu,  koleksi aneka pakaian batik dijumpai hampir di seluruh pasar bagian barat, khususnya lantai 1. Selain tersedia pakaian batik ,bagian barat juga menawarkan baju tradisional (surjan), blangkon, dan sarung tenun maupun motif batik. Produk lain seperti tas, sandal, mainan anak, souvenir murah khas Jogja juga tersedia.

Kemudian kita menuju bagian timur, jangan heran bila mencium aroma jejamuan. Bagian ini merupakan pusat penjualan bahan dasar jamu tradisional Jawa dan rempah-rempah. Bahan baku jamu yang dijual misalnya kunyit yang biasa dipakai untuk membuat kunyit asam dan temu lawak yang dipakai untuk membuat jamu terkenal rasanya sangat pahit. Rempah-rempah yang ditawarkan adalah jahe (diolah menjadi minuman ronde ataupun hanya dibakar, direbus dan dicampur gula batu, gula Jawa, atau gula pasir) dan kayu manis (untuk memperkaya citarasa minuman seperti wedang jahe, kopi, teh nasgitel). Pokonya komplit deh, tidak mengecewakan.

Bagi para penggemar dan kolektor barang antik, pasar ini juga tempat yang tepat untuk berburu barang antik dan kuno. Pusat penjualan barang antik khususnya terdapat di lantai 3 pasar bagian timur. Di tempat itu, anda bisa mendapati mesin ketik tua, helm buatan tahun 60-70an yang bagian depannya memiliki mika sebatas hidung, lampu gantung antik, topeng antik, dan sebagainya. Di lantai itu pula, anda dapat memburu barang bekas berkualitas bila berminat. Berbagai macam barang bekas pakai impor seperti sepatu, tas, raket, elektronik, Tv, radio, tape, salon, speaker, bahkan pakaian dijual dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga aslinya dengan kualitas yang masih baik. Khusus di tempat yang ini, para pengunjung membutuhkan kejelian dan ketelitian dalam memilih. Dan jangan lupa, kita harus pandai-pandai menawar.

Setelah menjelajahi bagian dalam pasar, kini kita coba untuk menjelajahi daerah sekitar pasar dengan penawarannya yang juga tidak kalah menarik. Kawasan pasar bagian utara yang dahulu dikenal dengan Kampung Pecinan adalah wilayah yang paling terkenal di Yogyakarta. Anda bisa mencari kaset-kaset kuno dari musisi tahun 50-an baik lokal maupun barat, yang jarang ditemui di tempat lain dengan harga yang sangat murah. Selain itu, terdapat juga kerajinan logam , kerajinan tembaga, kuningan, berupa patung Budha dalam berbagai posisi, uang logam kuno, seterika arang, klontongan sapi, petromak, lampu dinding, bros kuningan kuno dan lain-lain.

Sekarang kita menelusuri penjual minuman, meminum es cendol khas Yogyakarta adalah adalah pilihan yang tepat. Es cendol memiliki citarasa yang bersaing rasanya dengan dari es cendol Banjarnegara dan Bandung. Isinya tidak hanya cendol, tetapi juga cam cau (semacam agar-agar yang terbuat dari daun cam cau) dan cendol putih yang terbuat dari tepung beras. Pilihan minuman lain yang tersedia adalah es kelapa muda dengan sirup asli gula jawa, jamu seperti kunyit asam dan beras kencur, es the, es jeruk, es capur, rujak es krim, dll. Harga yang ditawarkan tak mahal, hanya berkisar antara Rp. 1.000,- sampai Rp. 3.000,-. Penjual angkringan juga bertebaran di sekitar pasar.

Pasar Beringharjo resmi tutup jam 5 sore, akan tetapi dinamika pedagang tidak hanya berhenti pada jam itu. Jika bagian dalam sudah tutup, bagian depan pasar masih menawarkan berbagai macam panganan khas dan kuliner menarik. Martabak dengan berbagai pilihan isinya, terang bulan yang rasanya legit bercampur coklat dan kacang, keju, serta jajanan klepon isi gula jawa, bakpao, yang lezat bisa dibeli di sore hari. Selepas maghrib hingga waktu lewat tengah malam, biasanya terdapat penjual gudeg di depan pasar sepanjang trotoar yang juga menawarkan kikil dan varian oseng-oseng. Sambil makan, para pengunjung bisa mendengarkan musik tradisional Jawa yang diputar atau bercakap dengan penjual yang biasanya menyapa dengan akrab. Kawasan lain (sepanjang malioboro) juga menawarkan wisata kuliner yang menarik, terutama setelah toko tutup, pokonya sangat lengkap.